Pages

Diberdayakan oleh Blogger.

Minggu, 28 Desember 2014

Pendekatan Pembelajaran Kontekstual

3.    Pendekatan  Pembelajaran Kontekstual

Pengajaran kontekstual adalah pengajaran yang memungkinkan siswa  untuk menguatkan, memperluas, dan menerapkan pengetahuan dan keterampilan akademik mereka dalam berbagai macam tatanan dalam sekolah dan luar sekolah agar dapat memecahkan masalah-masalah dunia nyata (University of wasington, 2001) dalam bukunya Trianto (2009: 105).
Menurut Wina Sanjaya (2006: 255) pembelajaran kontekstual adalah suatu strategi pembelajaran yang menekankan kepada proses keterlibatan siswa secara penuh untuk dapat menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkannya dengan situasi kehidupan nyata sehingga mendorong siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan mereka.
Pembelajaran kontekstual  adalah pembelajaran yang erat dengan pengalaman sesungguhnya (Blanchard, 2001) dalam bukunya Trianto (2009: 105). Pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning) adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkanya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapanya dalam kehidupan mereka sehari-hari, dengan melibatkan tujuh komponen pembelajaran kontekstual, yakni: konstruktivisme, bertanya, inkuiri, masyarakat belajar, pemodelan, refleksi dan penilaian autentik  (Trianto, 2007: 104)
Prinsip dari pendekatan kontekstual adalah aktivitas siswa , siswa melakukan dan mengalami, tidak hanya menonton dan mencatat; siswa sebagai subjek belajar karena mempunyai potensi; dan mengembangkan kemampuan sosialisasi (Erman Suherman dkk, 2001: 10).
Pembelajaran kontekstual menyajikan suatu konsep yang mengaitkan materi pelajaran yang dipelajari siswa dengan konteks dimana materi tersebut digunakan. Materi pelajaran akan lebih berarti jika siswa mempelajari materi pelajaran yang disajikan melalui konteks kehidupan mereka, dan menemukan arti didalam proses pembelajaranya, sehingga pembelajaran akan lebih berati dan menyenangkan.
Pendekatan pembelajaran kontekstual memiliki tujuh komponen utama,  yaitu kontruktivisme (constructivism) , inkuiri (inquiry) , bertanya (questioning), Masyarakat belajar (learning community), pemodelan (modelling), refleksi (reflection), dan penilaian  autentik (Authentic Assesment) (Trianto, 2007: 105-106).
1)    Konstruktivisme (constructivism)
Salah satu landasan teoritik pendidikan modern termasuk pembelajaran kontekstual adalah teori pembelajaran kontruktivis. Pendekatan ini pada dasarnya menekankan pentingnya siswa membangun sendiri pengetahuan mereka lewat keterlibatan aktif proses belajar mengajar. Proses belajar mengajar lebih diwarnai student centered daripada teacher centered. Sebagian besar proses belajar mengajar berlangsung dengan berbasis pada aktivitas siswa (Trianto, 2007: 106).
2)    Inkuiri (inquiry)
Inkuiri merupakan bagian inti dari kegiatan pembelajaran berbasis kontekstual. Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa diharapkan bukan hasil mengingat seperangkat fakta-fakta, tetapi hasil dari menemukan kegiatan sendiri. Guru harus selalu merancang kegiatan yang merujuk pada kegiatan menemukan, apa pun materi yang diajarkanya (Trianto, 2007: 109).
3)    Bertanya (questioning)
Bertanya merupakan strategi dalam pembelajaran kontekstual. Pengetahuan yang dimiliki oleh seseorang selalu bermula dari bertanya. Bertanya merupakan kegiatan guru untuk menggali informasi, mengecek pemahaman siswa, memfokuskan perhatian siswa. Bertanya dapat diterapkan antara siswa dengan siswa, siswa dengan guru atau guru dengan siswa (Trianto,2007: 110).
4)    Masyarakat Belajar (learning community)
Konsep masyarakat belajar menyarankan agar pengetahuan atau hasil pembelajaran diperoleh dari kerjasama dengan orang lain. Hasil belajar yang diperoleh dari sharing antar teman, antar kelompok, dan antar yang tahu ke yang belum tahu. Dalam kelas pembelajaran kontekstual, guru disarankan selalu melaksanakan pembelajaran dalam kelompok-kelompok belajar. Siswa dibagi dalam kelompok yang anggotanya heterogen. Kelompok siswa bisa bervariasi bentuknya, baik keanggotaan, jumlah, bahkan bisa melibatkan siswa dikelas atasnya, atau guru melakukan kolaborasi dengan mendatangkan seorang ahli dikelas (Trianto, 2007: 111).
5)    Pemodelan (modeling)
Pembelajaran kontekstual menekankan arti penting pendemonstrasian terhadap hal yang dipelajari peserta didik. Pemodelan memusatkan pada arti penting pengetahuan prosedural. Melalui pemodelan peserta didik dapat meniru terhadap hal yang dimodelkan. Model bisa berupa cara mengoperasikan sesuatu, contoh karya tulis, melafalkan bahasa dan sebagainya (Agus Suprijono, 2011: 88).
6)    Refleksi (reflection)
Refleksi adalah cara berfikir tentang apa yang baru dipelajari atau berfikir kebelakang tentang apa-apa yang sudah kita lakukan dimasa yang lalu. Siswa mengendapkan apa yang baru dipelajarinya sebagai struktur ilmu pengetahuan yang baru, yang merupakan pengayaan atau revisi dari pengetahuan sebelumnya. Refleksi merupakan respon terhadap kejadian, aktivitas, atau pengetahuan yang baru diterima (Trianto, 2007: 113).
7)    Penilaian Autentik (authentic assessment)
Penilaian proses dan produk, tugas-tugas relevan, evaluasi adalah penghargaan atas kinerja, berbagai cara dan intrumen (Observasi, angket, catatan harian, wawancara, rubrik jurnal, portofolio dan tes) (Erman Suherman dkk, 2001: 10).
 

Blogger news

Blogroll